Hariankepri.co.id, BATAM – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah yang seharusnya menjadi tempat pengungsian bagi rakyat kecil mencari kesembuhan, kini justru dituding berubah menjadi mesin pencetak uang melalui tarif parkir yang mencekik.

Bagi keluarga pasien, rumah sakit ini tidak lagi hanya memberikan beban pikiran atas penyakit, tetapi juga beban finansial lewat sistem parkir portal yang seolah tanpa belas kasihan.

Ironisnya, sistem tarif yang diberlakukan di rumah sakit plat merah ini jauh lebih “galak” dibandingkan dengan pusat perbelanjaan seperti Pasar Aviari. Berdasarkan penelusuran awak media, terdapat jurang perbedaan yang sangat tajam dalam pengelolaan dana masyarakat melalui sektor parkir ini.

Saat diwawancarai, Salah satu petugas parkir portal yang berinisial G di RSUD Embung Fatimah, menjelaskan skema tarif yang berlaku di sana. Menurut pengakuannya, tarif untuk sepeda motor mencapai Rp30.000 per 24 jam, sementara mobil dipatok di angka fantastis Rp60.000 per 24 jam.

Meski inisial G mengklaim adanya sistem voucher sebesar Rp20.000 yang berlaku selama tiga hari, skema ini tetap dirasa memberatkan bagi keluarga pasien yang harus menginap berminggu-minggu.

Lebih lanjut, Inisial G menyebutkan bahwa sistem tarif berlaku progresif setelah masa gratis 15 menit pertama habis. Satu jam pertama dikenakan Rp2.000, dan akan terus bertambah setiap jamnya.

“Satu jam lagi naik Rp3.000,” ujar si G menjelaskan kenaikan tarif motor tersebut.

Pemandangan berbeda ditemukan di Pasar Aviari. Seorang petugas parkir di sana yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan sistem yang jauh lebih sederhana dan tidak “menghisap”.

“Jam kami jam mati, Bang. Enggak nambah dia bayarnya,” ujarnya dengan santai.

Di Pasar Aviari, pengendara motor hanya cukup membayar Rp2.000 dan mobil Rp4.000, tanpa perlu khawatir tarif akan terus membengkak meski kendaraan parkir seharian.

Ketentuan tarif tetap atau “jam mati” ini membuat pengunjung tidak merasa diburu waktu atau diperas oleh keadaan.

Kritik tajam pun bermunculan terkait instansi kesehatan milik pemerintah justru menerapkan tarif yang lebih mahal dan progresif dibandingkan pasar komersial Keluarga pasien yang sedang dalam kondisi darurat dan duka seolah dijadikan “sapi perah” oleh manajemen RSUD Embung Fatimah melalui pihak ketiga pengelola parkir.

Perbedaan sistem “jam hidup” (progresif) di rumah sakit dan “jam mati” (flat) di pasar menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap masyarakat yang sedang kesulitan. Jika pasar saja bisa menerapkan tarif yang bersahabat, Ini justru tempat orang sakit malah dipagari dengan portal-portal yang siap menguras dompet setiap jamnya.

Rakyat Batam kini menunggu, apakah RSUD Embung Fatimah akan tetap mempertahankan sistem “parkir komersial” ini, atau mulai belajar dari Pasar Aviari tentang cara memanusiakan manusia.

M Rizky Apryansyah